Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

Cerita Layang-Layang

“Hari ini saya akan terbang” warta Layang pada Angin.

“Ini pengalaman pertamamu ?” tanya angin kemudian.

“Iya. Makanya saya masih perlu benang untuk penuntun di angkasa.”
Angin hanya tersenyum sambil mendesau menggerakan daun-daun nyiur. Ia ikut senang melihat keceriaan sahabatnya itu.

“Kamu juga harus bantu saya, ya angin...!!??” pintanya memomohon. Dentuman jantungnya begitu kuat, hingga angin mampu mendengarnya.

“Tenang saja, saya pasti membantumu. Yang penting kamu harus tetap berpegang dulu pada benang.”

“Ya.”

“Bagaiman pemandangan di langit ? Aku tidak sabar lagi ingin kelangit, bermain dengan burung-burung dan awan-awan. Kamu juga akan menemaniku kan ?” Tanya Layang-layang setelah beberapa saat terdiam.

Kamis, 21 Juli 2011

Takdir di Ujung Nyali

Sinar jingga barat menghadirkan lukisan berbayang di sisi timur dusun. Bayangan manusia perlahan memunculkan sosoknya dari arah tanjakkan jalan bertanah yang belum jua mencium bau aspal sejak kemerdekaan silam. Matahari tak lagi menampakkan rupanya, sebab terselubung awan tebal, meski sinarnya masih memberi bayang bagi seluruh alam.

Seiring peraduan matahari, sosok lelaki tegap semakin mendekati perbatasan dusun yang dengan stelan kemeja biru berdasi dengan celana hitam serta sepatu mengkilat, menghadirkan suasana kontaras bagi dusun sunyi yang rumah satu dengan lainnya masih berjarak. Tangannya menggenggam koper hitam dan tangan satunya melambai mengikuti gerak langkahnya.