Tampilkan postingan dengan label Terbesit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terbesit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

Telah Lupa

Hujanya tak kunjung reda, kau mungkin tak lagi mengingat bagaimana rasa sinar matahari yang menampar hangat di pipimu. Yang kini kau perhatikan dan kau ingat hanyalah berapa basah rambutmu yang di jatuhi bulir-bulir air dari langit, yang entah mengapa tak memberi jedah pada bumi dan kali untuk bernafas. Kau pasti lupa, betapapun perihnya sengatan matahari itu menampar pipi kita, tapi ia memberi kehangatan yang entah bagai mana aku selalu merindukannya, kau mungkin lupa, telah lupa.

Kamis, 29 November 2012

Malamku dan Ceritanya Tentang Semesta

"Sadar adalah bukan saat kau terbangun oleh kokok ayam dan jentikan sinar pagi, sadar adalah ketika saat mendengar kau tak ada artinya bagi mereka yang kau sayangi, orang-orang terdekatmu. Saat itu kau akan tahu, bayanganmu tentang dirimu di ucapan banyak orang adalah ungkapan manis yang hanya berusaha untuk terlihat baik di depanmu, dan di belakang menelanjangimu dengan sosok buruk yang melumpurimu. Ucapan orang terdekat, yang menyayangimu dan kau juga sebaliknya, adalah ucapan paling jujur yang harus di dengar untuk terus bergerak merengsek maju. Meski ucapan itu menghapus bayang indah tenang dirimu sendiri, tapi itulah kenyataannya."

Malamku mendung
Mungkin hujan akan turun ? saya harap. Di balik deras bulir-bulirnya ia selalu menyimpan kesejukan setelahnya, meski sering kita mengeluh selalu ada langkah yang tertahan untuk melakukan aktifitas yang sewajibnya. Hukum alam selalu mengajarkan, untuk dapat bertahan harus selalu ada keseimbangan, hukum alam paling mendasar. Hujan datang untuk mengganti kemarau.

Jumat, 26 Oktober 2012

Cerita Hati

Lama tak menyapamu imajiku, apa kabar kau di sudut sepi itu. Maaf telah cukup lama meninggalkanmu, bukan karena tak ingin, apalagi karena kebencian. Banyak kerinduan yang menumpuk membentuk trombus di ruang fikirku, tapi kesibukan ini begitu berbeda. Ini tentang cinta yang kemudian menghinggap dan membunuh seluruh waktuku, bahkan untuk sekedar menyapamu serasa mustahil.

Sabtu, 07 April 2012

Menggelar Lontar Hidup

Matahari muncul dengan sinarnya yang lama, namun tak jua manusia bosan dengan teriknya yang menggigit. Bersanding kokok ayam dan bulir embun, bumi juga butuh mandi. Hidup selalu mesti di pertanyakan agar ia memiliki arti, seperti pesan Aristoteles, sang filusuf Yunani. Lepas dari pesannya, memang hidup selalu mengundang tanya.
Usia adalah anugerah terbesar, di dalamnya tersimpan rekam jejak nafas hidup. Melihat album hidup masa lalu, ada cerminan diri yang seperti kurva, dari dasar menanjak dan kembali jatuh. Kini berada dalam ruang penuh pertanyaan, harapan yang sedikit redup sedikit menyala. Ada ketidak konsistenan terhadap ratusan simpulan gerak, ataupun stagnasi gerak. Lantas akan bagaimana jika terus seperti ini.

Sabtu, 10 Maret 2012

Kegalauan Langkah

Galau, term yang saat ini sangat populer dan sering di keluarkan oleh anak-anak muda. Terminologi ini pula menjadi label untuk musik-musik yang bernada mellow, film yang mengharu biru dan bertema cinta, juga untuk note-note di jejaring sosial, meskipun secara aktual tak seperti itu. Sehingga pengidntifikasian status hati seseorang, kecenderungan melalui model musik, film, dan ungkapan-ungkapan seseorang.

Galau secara harfiah dapat di artikan sebagai ketidak beraturan perasaan seseorang. Implikasi dari hal ini adalah penyimpangan perilaku dari biasanya dan penurunan produktifitas. Hal ini pulalah yang menimpa saya. Ada fenomena dari diri yang tak bisa di defenisikan, yang terang hanyalah adanya perasaan tak beraturan, kehilangan motivasi dan produktifitas. Tapi, kegalauan ini bukan faktor merah jambu alias cinta.

Selasa, 27 September 2011

Merekam Gerak dan Ritual Senja (Penuh Cinta, Untuk Ayah dan Ibu Kita)

Di dusun, aku selalu senang menanti senja, saat lembayung melukis alam dengan warna berbeda. Langit jingga perlahan pudar berganti hitam. Aku selalu senang di puncak senja, saat dayu azan menggiring unggas berduyun ke kandang. Di garis batas antara petang dan malam.

Beriring burung-burung terbang menuju peraduan, berbondong-bondong warga melangkah ke masjid dusun, di tengah kampung depan rumah. Aku selalu senang senja, merekam kilas kehidupan petang.

Rabu, 03 Agustus 2011

Para Pilihan Zaman

Musim kemarau panjang ini berlalu sudah. Apa yang tersisa dari terik yang amat sangat selama dua belas purnama itu ?. Hanya debu dan rumput kering, mungkin juga beberapa pohon yang kuat menghadapi terjangan musim. Gumpalan awan menandai masa musim hujan, rintik perlahan turun menyirami lahan-lahan kering. Guntur berdahak tak henti beriring kerlip gemerlap kilat, alam gulita menyarungi, sebelum nafas cerah kehidupan datang menayapa.

Patut bangga segala yang kokoh melewati musim kering kemarau, sebab mereka adalah pilihan dari kerasnya keadaan. Akan muncul benih-benih baru dari siraman air musim basah hujan, siapa yang mampu meramalkan, kelak mereka akan merekah sejauh apa?, menjulang setinggi apa ?.

Senin, 04 Juli 2011

Indonesia Mencari Bakat ; Bangsa Kehilangan Pemuda

Berjibaku stasiun TV dengan program tayangan entertain yang beragam. Mulai dari yang mencari idola, mencari pacar, sampai mencari orang berbakat. Banyak orang Indonesia saat ini rupanya kehilangan, sehingga banyak saluran TV menabur jasa pencarian. Lumayan banyak dapat untung.

Indonesia banyak kehilangan saat ini, kehilangan hutan, kehilangan tambang, kehilangan pemerintah, kehilangan masyarakat, kehilangan etika, solidaritas, kebhinekaan, moral hukum, dan banyak deretan daftar kehilangan lainnya, burung garuda dan teks pembukaan UUD pun kehilangan. Dan tanah pijakan yang tersisa, terancam kehilangan juga.

Lantas, apa yang tersisa dari Indonesia ini ?

Sabtu, 25 Juni 2011

Ada

Ada kegundahan yang tertinggal
Ada rasa yang mengganjal
Ada harapan yang hilang
Ada keinginan yang terbang

Anak Zaman Prematur

Aku terlahir dari rahim zaman dengan bangunan gedung-gedung tinggi,tapi manusia di sekitarku terbangun dengan kepribadian kerdil,setiap hari aku melintasi jalan-jalan lebar,tapi tiap hari pula bertemu orang-orang berhati sempit.Banyak alat komunikasi,tapi jarak kita makin jauh.Banyak waktu yang kita punya,tapi sedikit yang kita dapat.

Dari kecil aku diajarkan tentang kebenaran,tapi tiap hari aku melihat kebohongan.Di sekolah aku mendapat ilmu memproduksi,tapi di media masa menjejaliku dengan budaya mengonsumsi.Dai-dai berteriak tentang kedermawanan,tapi tiap hari kulihat manusia-manusia pelit.Agama mengajarkan keadilan,tapi manusia-manusia mengambil lebih banyak untuk dirinya.Berbagi adalah hal terindah,tapi banyak manusia-manusia serakah.

BARISAN TOPENG SENYUM

Berbaris bagai prajurit,tapi mungkin bisa sedikit diajari tentang tertib,sebab tak patuh rupanya mereka pada aturan baris berbaris.Di aspal pada siang,bayang mereka hitam terpantul dalam bentuk bingkai persegi,besar kecil "menghias" hiruk jalanan kota,,senyum 24 jam mereka terbias,,meski kadang hanya gelap malam yang melihat senyum tak jelas itu,,beramah,menghamba atau sekedar mengelabui...

Kata-kata....yang satu ini adalah penyampai makna terhebat,,atau alat penipu luar biasa,,,dan sekarang terketik pada lembaran bingkai mereka,,entah sebagai apa????,,

Bulan yang Menggantung di Malam

Kanvas langit memberi cerita,menggulir masa di dua kata.Untuk matahari dan untuk bulan.Sisip suka di seberang duka,Lalu membuat kisah disertai layar bergambar,diletakkan di kepala belakang lalu diputar..

Ada bintang yg beribu di cakrawala malam,ada awan yg menggulung di horison siang,selalu ada hujan kisah yang membasahi tanah,menambah episode layar bergambar..

LELAKI KEMARIN

Tak perlu awal kisah untuk mengenalkan dia,pun tak butuh masa lalu untuk mengetahui dia.Tak guna bila dimulai dari awal,sebab ia berpesan hanya bercerita tentang kenyataan masa ini dan harapan indah atau kenyataan pahit masa depan.
“Taak apalah,ceritakan padaku.”Pintanya
Aku diam,
“Ceritalah..Tentang awan yang kamu pandangi dari kemarin itu dan saat ini menjelma hujan….”.
Aku diam,menutup mata

Selasa, 07 Juni 2011

Untuk Mengenang Mereka,


“Kita memimilih mengenang orang yang telah pergi seperti apa...”
            Ungkapan manis yang inspiratif, menggerakkan segala tanya dan upaya pada satu daya peraihan mimpi-mimpi. Suatu saat, kita akan dikenang seperti apa ?
            Termenung, merenung, tapi tak berkabung.
Banyak sudah mereka berpulang, waktu tak pernah perduli, jejak apa yang pernah mereka tinggalkan, yang pasti, semua akan tercatat dalam memori kenangan, dan kita yang di sini memilih mengenang dengan cara kita sendiri.
            Maka nyanyian apa yang paling indah, selain kenangan tentang mereka yang merubah jalan kehidupan. Dendang apa yang paling merdu, selain cerita tentang benih kebaikan yang tertanam selama nafas kehidupan. Kita cuman bisa berharap, pada bibir-bibir sejarah, salah satu nama adalah kita yang coba merubah kehidupan, tidak diam menikmatinya. Meski hanya ibarat burung mungil dengan paruh kecil membawa setetes air asin, pada kisah pembakaran nabi Ibrahim.
            Masa tak pernah mengenal ampun, ia kan tetap merenggut usia, meski kita mungkin menyimpan berkati-kati mimpi. Kita akan dikenang seperti apa ?
( Membaca buku “Soe Hok-Gie, ...sekali lagi”. Memadunya dengan Ungkapan Ka Dita pada suatu kali )
Makassar, Asrama Medica FK UH
02.00 dini hari ; 07 Juni 2011

Sabtu, 14 Mei 2011

Gen Yang Mencerahkan

Muncul dari perpaduan cahaya matahari dan sinar rembulan, menapak hidup dengan kepastian, meninggalkan jejak perjuangan...di hari ini dan hari depan.