Tampilkan postingan dengan label Pujangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pujangga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2012

Ragu yang tak Pupus

Datangnya berdesir lantas menghenyak
Kemudian mengisi di seluruh ruang otak
Ada degup yang bermain di rongga rusuk
Nafas yang bermain sekali lapang berkali sesak
Lantas ku defenisikan sebagai simpatik

Kita pernah bertanya tentang keraguan rasa
Yang kini tak jua kunjung jawaban menyapa
Berkali coba utuk mengisi tanya dengan geliat jumpa
Tapi kita tau itu semakin mengendapkan lara

Senin, 23 April 2012

Hati-hati dengan Kata

Hati-hati dengan kata.,
ia berarti benar juga dusta hingga membentuk bisa,.
bayangan maupun kenyataan menjelma suram.,
kamuflase maupun simulakrum menjadi bias.,
hingga kita buta akan realitas..

hati-hati dengan kata.,
ia menggema di gorong-gorong fikir.,
keluar di mulut menjadi gonggongan pandir.,
menyalak lalu lalang pejalan luar.,
mengira dirinya paling besar.,
hingga tak sisa yang lain untuk benar.,

Senin, 02 April 2012

Aksara Mencari Sukma

Aksara tak berbentuk.,
Kemarin rasa-rasanya ia masih di sana.,
Menggelar suara dengan dengung-dengung nyata.,
Cerita tentang hidup dan rasa.,
Memantulkan jiwa jelaskan pengalaman abstrak.,

Aksara mencari butir kata dan nada.,
Menghibur hati yang berkerudung sedih,
Berserak di alam ide tandas di jentik jemari,
Terbang di bawa gelombang dan badai masa,

Jumat, 14 Oktober 2011

Jangan Nyaman, Kita Harus Berjalan

Harapan itu adalah keyakinan
Ia menyeruak dari jiwa yang terdalam
Meski ribuan iblis meragukan
Tapi ia kan semakin kuat tertananam

Selasa, 27 September 2011

Tentang Hati Untukku

Malam menyusup hati...
Sontak menghirup sepi...
Lantas berlari mencari pengusir sunyi.

Di lelah tapak aku berjumpa bintang-bintang
Kerlipnya mambasuh jiwa yang kering

Selasa, 05 Juli 2011

Masih Bermimpi...

Bias jingga dari arah sisi barat
Di wajah temaram garis langit
Bola api matahari bergerak turun perlahan
Menarik serta tirai malam

Sabtu, 25 Juni 2011

Rekaman Rembulan

Manusia-manusia di bawah temaram lampu jalanan
Redup wajah mereka di sorot sinar rembulan
Mereka berdiri di gelinding nasib

Ada wajah dalam balutan bedak
Ada wajah dalam balutan daki
Ada yang minta diberi mani
Ada yang minta di kasihani

AKU

dua bola tertempel pada kantung kelopak
lima guratan menggaris di atasnya
dua lagi daun menghias di sampingnya
delapan mata angin perputaran arahnya
sembilan terakhir kotak pandoranya....
AKU

(terimakasih persinggahan rahimnya,,hingga raga tak cacat)

Aku Mengingat Wajahmu,Tapi Tak Mampu Menyebut Namamu

Jika ada segores lengkung pada pipi,
Ada kerutan di atas dahi
Ada mata yang mengawang
Aku hanya sedang keliling ke perpustakaan
Atau mengotak atik folder di komputer

Rintihan Berulang

Gorong-gorong hati menggemakan suaranya
Nyaring melengking merayapi udara
Dihiasi tangis yang pilu

Ada yang terpasung dalam jiwa
Menjerit pinta pembebasan
Dari pasungan balok-balok dosa

NYANYIAN UJUNG DERMAGA ANANDA

Dari ujung dermaga
Tak jua mata menatap ujung lautan
Hanya paduan langit dan lauta yang menetap menggaris
Atau onggakan karang dan pegunungan kokoh
Keindahan pada nampak mata memukau terpukau

Dewi Aphrodite Menebar Panah

Hujan menjadi musim pasti
Tak menentu berapa penggal bulan terlalui
Hujan turun pada kepastian hari
Saat senja yang sering menelan mentari

Hujan ini bagai tangis bumi
Pada manusia yang telah pikun berbagi
Yang telah lumpuh memberi
Menyisihkan sisi kasih

HAH...!!!

Musnah saja engkau para pecundang
Yang takut pada gemuruh dan deru hujan
Pada keras dan terjal kehidupan
Hilang saat lelah menghampiri petang

Selasa, 24 Mei 2011

SANG PEMENANG

Jika gelombang mampu mengokohkan tapak karang
Maka jadikanlah akau karang dan hidup adalah gelombang
Meski mungkin sekali duakali terhempas

Jika terik dan hujan mampu menjadihkan pohon ek menjulang
Maka jadikanlah aku pohon ek dan hidup adalah terik dan hujan
Meski mungkin sekali dua kali daun terlepas

JIka buas harimau menjadikan kijang berlari kencang
Maka jadikanlah hidup sebuas harimau dan aku sekencang kijang
Meski mungkin sekali dua kali kulit tergores

Namun jika…
            Gelombang melebur karang
Terik-hujan sebabkan pohon ek tumbang
Buas harimau membunuh kijang
Maka biarkanlah aku menjadi pemenang dengan hidup yang cadas

*Inspirasi dari membaca Mushashi (hal.
Makassar ; Asrama Medica, 13/05/2011., 2:52 Wita
Tak Hingga

Dari arah pintu mana engkau akan hadir,
hingga polos langit berubah lukis pelangi,
 mencipta lahan taman dari ruang tandus,
 menyihir terik panas menjadi hembus sejuk.

Dimana engkau bersemayam,
wahai rasa yang membalut semesta dalam wajah satu,
melebur syurga dan neraka membuang tabu,
hingga tak ada jedah bagi pilu.

Makassar ; Asrama Medica, 13/05/2011.,02:30 wita
MELODI KOCAK

Mulutku kelu aku sendu
Tanganku kaku hamba pilu
Tak ada cinta hambar kata

Bait-bait kata teracak kacau
Kaca-kaca syair diam membisu
Decak-decak kosong melonglong

Tumpah nada-nada buntu
Dering senar-senar hambar
Nyanyi lagu-lagu hampa

Keropos jiwa kerontang
Meronta meretak ruang kosong
Memecah gentong kantong oblong

Makassar ; Asrama Medica, 13/05/201