Senin, 23 April 2012

Cerita Layang-Layang

“Hari ini saya akan terbang” warta Layang pada Angin.

“Ini pengalaman pertamamu ?” tanya angin kemudian.

“Iya. Makanya saya masih perlu benang untuk penuntun di angkasa.”
Angin hanya tersenyum sambil mendesau menggerakan daun-daun nyiur. Ia ikut senang melihat keceriaan sahabatnya itu.

“Kamu juga harus bantu saya, ya angin...!!??” pintanya memomohon. Dentuman jantungnya begitu kuat, hingga angin mampu mendengarnya.

“Tenang saja, saya pasti membantumu. Yang penting kamu harus tetap berpegang dulu pada benang.”

“Ya.”

“Bagaiman pemandangan di langit ? Aku tidak sabar lagi ingin kelangit, bermain dengan burung-burung dan awan-awan. Kamu juga akan menemaniku kan ?” Tanya Layang-layang setelah beberapa saat terdiam.

Hati-hati dengan Kata

Hati-hati dengan kata.,
ia berarti benar juga dusta hingga membentuk bisa,.
bayangan maupun kenyataan menjelma suram.,
kamuflase maupun simulakrum menjadi bias.,
hingga kita buta akan realitas..

hati-hati dengan kata.,
ia menggema di gorong-gorong fikir.,
keluar di mulut menjadi gonggongan pandir.,
menyalak lalu lalang pejalan luar.,
mengira dirinya paling besar.,
hingga tak sisa yang lain untuk benar.,

Sabtu, 07 April 2012

Menggelar Lontar Hidup

Matahari muncul dengan sinarnya yang lama, namun tak jua manusia bosan dengan teriknya yang menggigit. Bersanding kokok ayam dan bulir embun, bumi juga butuh mandi. Hidup selalu mesti di pertanyakan agar ia memiliki arti, seperti pesan Aristoteles, sang filusuf Yunani. Lepas dari pesannya, memang hidup selalu mengundang tanya.
Usia adalah anugerah terbesar, di dalamnya tersimpan rekam jejak nafas hidup. Melihat album hidup masa lalu, ada cerminan diri yang seperti kurva, dari dasar menanjak dan kembali jatuh. Kini berada dalam ruang penuh pertanyaan, harapan yang sedikit redup sedikit menyala. Ada ketidak konsistenan terhadap ratusan simpulan gerak, ataupun stagnasi gerak. Lantas akan bagaimana jika terus seperti ini.

Senin, 02 April 2012

Aksara Mencari Sukma

Aksara tak berbentuk.,
Kemarin rasa-rasanya ia masih di sana.,
Menggelar suara dengan dengung-dengung nyata.,
Cerita tentang hidup dan rasa.,
Memantulkan jiwa jelaskan pengalaman abstrak.,

Aksara mencari butir kata dan nada.,
Menghibur hati yang berkerudung sedih,
Berserak di alam ide tandas di jentik jemari,
Terbang di bawa gelombang dan badai masa,

Sabtu, 10 Maret 2012

Kegalauan Langkah

Galau, term yang saat ini sangat populer dan sering di keluarkan oleh anak-anak muda. Terminologi ini pula menjadi label untuk musik-musik yang bernada mellow, film yang mengharu biru dan bertema cinta, juga untuk note-note di jejaring sosial, meskipun secara aktual tak seperti itu. Sehingga pengidntifikasian status hati seseorang, kecenderungan melalui model musik, film, dan ungkapan-ungkapan seseorang.

Galau secara harfiah dapat di artikan sebagai ketidak beraturan perasaan seseorang. Implikasi dari hal ini adalah penyimpangan perilaku dari biasanya dan penurunan produktifitas. Hal ini pulalah yang menimpa saya. Ada fenomena dari diri yang tak bisa di defenisikan, yang terang hanyalah adanya perasaan tak beraturan, kehilangan motivasi dan produktifitas. Tapi, kegalauan ini bukan faktor merah jambu alias cinta.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Surat dari Ibu Pertiwi

Berjalan di deretan buku-buku usang yang berjejer di rak-rak ruang perpustakaan, sedikit merasa miris. Bias cahaya matahari dari sela-sela kusen jendela menarik partikel-partikel debu, dan silia-silia hidung bereaksi bersin atas debu-debu yang terhirup, bertambah miris. Kutarik satu buku tebal berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” karangan tokoh besar Indonesia. Warna sampulnya cokelat, tapi masih ada garis-garis hitam yang kurasa warna dasar sampul, makin miris. Kubuka kilas lembar demi lembar, coba merangkai poin-poin ide. Di akhir halaman, terselip sebuah amplop,

Jumat, 14 Oktober 2011

Jangan Nyaman, Kita Harus Berjalan

Harapan itu adalah keyakinan
Ia menyeruak dari jiwa yang terdalam
Meski ribuan iblis meragukan
Tapi ia kan semakin kuat tertananam